Minggu, 11 April 2010


walau pahit aku tetap tabah menghadapinya
Pagi-pagi sekali aku mulai bergegas menuju UI Depok. Akupun melihat jam di tembok kamarku menunjukan pukul 7 teng. Dengan sigapnya aku pun segera menuju kamar mandi. Pukul 8.30 aku berangkat dari pesantren mahasiswa Al Ihya Dramaga. Dengan perasaan yang was-was "Ya Rabbi mudah-mudahan tidak telat". Dengan perasaan yang deg-degan akupun berdoa dalam hati "Bissmillahirrahmanirrahim". Doa ini mengiringi perjalananku dalam relung-relung hatiku menuju perjalanan ke UI Depok ………Ups …ssss… Tak terasa akhirnya sampai juga aku di stasiun Bogor ……. Hatiku pun mulai lega segera saja " aku berlari bagai liukan angin di tengah-tengah antrian jalan merdeka yang padat itu……..!!!! ku lihat jam di HP ku …….ternyata jam 8.05. Alhamdulillah perasaanku pun sedikit tenang ………..segera ku tarik nafas ………aku tancap gas seribu langkah lagi untuk segera membeli tiket menuju Jakarta. "Yes !!!! untung saja …….terima kasih rabbi engkau perkenankan doa hamba". Ternyata kereta masih setia menunggu ku di sana. Segera saja aku menuju ke kereta. Ups……segera saja ku loncat ke dalam kereta listrik menuju Jakarta. Alhamdulilah tidak beberapa lama kereta pun berangkat. Sambil wajahku pun menerawang melihat kilatan pemandangan pinggiran kota menuju Jakarta. Suasana di kereta pun penuh berdesak-desakan …..akupun mulai mencari ide apa yang harus aku lakukan saat ini ???. Sejenak ketika aku mulai berpikir tiba-tiba akupun di kejutkan oleh sesosok anak-anak paruh baya ……aku pun mulai penasaran dan ku mulai melihat ke arahnya……wau, akupun mulai kaget ternyata anak tersebut marah-marah terhadap penumpang di sebelahnya karena merasa dirinya terdorong sambil berucap sumpah serapah anak tersebut bilang " Ape Lo tahu kalo gua bakalan jatuh ?" ……"Ape lo tahu kalo gua jatuh lo bakalan ngobatin ??" dengan logat betawinya yang khas tidak lupa anak tersebut mulai memasang aksinya untuk mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya …………."mmmmBapak-bapak sekalian"…. "mmmmIbu-ibu sekalian" …… "mmmmmmauauaua… betapa sakitnya menjadi seorang anak jalanan tidak punya ayah dan ibu dan hidup bermodalkan ucapan, bertemankan malam di balik kesenduan dengarkanlah nasib saya wahai tuan-tuan dan nyonya-nyonya …..ketika malam datang ku berharap datangnya hidangan ketika mata ini terbuka ku menantikan belaian seorang ibu, ku terlahir di balik onggokan sampah ibu kota. Ayah dan Ibuku pun ku tak tahu siapa …..dengarkanlah wahai nyonya-nyonya dan tuan-tuan perutku pun seakan terusik menantikan sapaan, dengarkanlah tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang ku harapkan hanyalah secuil percikan harta di tengah ganasnya himpitan kehidupan ibu kota …..pikirkanlah nasib kami semua oleh seorang anak jalanan menuju suatu jalan ke abadian. Puih puitis banget pikirku. "Tuan…..wah…. berbakat juga ternyata anak ini pikirku tak kusangka perawakannya yang garang sanggup mengegetarkan hati para penumpang. Tak lama kemudian hujan recehpun membasahi anak tersebut. Dengan senyumnya yang agak tersapa-sapa dia berjalan mengantongi bundaran logam-logam. Terima kasih tuan dan nyonya terima kasih abang dan kakak. Tidak ada yang dapat saya berikan selain dari sebungkus doa berselimutkan senyuman"……Wassalam dari saya anak jalanan


Akhirnya akupun penasaran juga untuk memberanikan diri mendekatinya. Akupun mulai mencoba untuk berkenalan dengan bocah itu. "Maaf, Adek namanya siapa?, bolehkah kakak berkenalan ?" kucoba dengan suara yang pelan dan menebarkan senyuman. "saya emang lo siape ?". "Emang apa pentingnya lo pengen tau nama gua ?".Wah ternyata cukup tertutup juga pikirku anak ini namun ku tak putus asa segera saja ku keluarkan "jurus maut" tuk coba berkenalan dengannya…..ku ambil sepotong coklat yang ku beli dari toko tadi dari tasku…. "Ade mau coklat ini?". Sambil terbelalak dan kemarah-merahan kedua matanya menunduk dengan sedikit malu. "Jelas dong gua mau". "Baiklah ada satu syarat kakak ingin berkenalan dengan adek bisakan !". "mmmmmmm ….. Yah.. boleh". "Nama saya adalah Tono….yah Tono… orang-orang pinggiran banyak memanggil nama ini kepada saya……tapp…..pi saya tidak tahu siapa nama yang ingin di berikan oleh ibu saya karena saya merupakan seorang anak yang telahir dari ongokan sampah ibu kota, saya tidak tahu siapa ayah dan ibu saya…dimana mereka saat ini…..ku di besarkan oleh banyak tangan di kehidupan kota metropolitan ini… merekalah yang telah membentuk karakter ku seperti ini…….. yah seperti ini sesosok manusia pinggiran………". Mendengar perkataannya serentak bathinku merintih dan sedih pilu…. Ya Allah maafkanlah hambaMU ini jika selama ini hamba kurang bersyukur akan karunia dan nikmat yang engkau berikan ternyata di balik kesenangan yang kurasakan masih terdapat saudara saya yang hidup dalam penderitaan begitulah hati kecilku mulai meronta dan membisikan seibu pesan penyadaran diri. Greeeg….greeg….gregg….suara kereta meyusuri sepanjang rel kota. Dengan rasa penasaran pun lalu ku bertanya lagi padanya "Dek Tono kenapa sikap dan perangaimu begitu kasar tadi…?????". "Kak, aku melakukan hal itu untuk bertahan hidup di kota Jakarta ini. Ku anggap Jakarta sebagai rimba pertarungan untuk mempertahankan kehidupan….. yah untuk mempertahankan kehidupan ……yang kuatlah yang dapat hidup di kota ini. Ku sengaja menyembunyikan dan menipu diri ku untuk mempertahankan kehidupan ku ini……ku sengaja berlaku kasar karena terpaksa kak …. Dengan satu alasan utuk bertahan hidup di tengah hukum rimba kota metropolotan". "Tapi sadarkah engkau dek bahwa cara yang kau lakukan itu salah……!!!!" Kamu tidak hanya menipu dirimu sendiri namun menipu kepercayaan dan orang tuamu….!!!. Orang dapat hidup dengan mudah di kota Rimba ini jika kita menunjukan jati diri kita yang sebenarnya……..sadarilah itulah kehidupan, seberat apapun kehidupan yang kau hadapi itu merupakan ujian dari Allah agar kelak engkau menjadi seorang yang senantiasa besyukur. ….percayalah kau dapat hidup di ganasnya kehidupan ini jika kaumemiliki kejujuran ……memiliki ketabahan bukan kebohongan…..percayalah….bangkitlah engkau pasti mampu……." Sambil kutatap sorotan matanya ku resapkan semangat kepadanya dan ku peluk tubuhnya…… Baiklah Kak Terima kasih atas nasehatnya……" Akhirnya tidak lama kemudian Keretapun sampai ke stasion pemberhentian UI Depok…. "Dek mungkin kita tidak bisa bertemu kembali, namun percayalah walaupun kita berjauhan namun kita sama-sama memiliki hati yang tidak terbatas tempat dan waktu……." Sampai ketemu lagi semoga jika Allah berkehendak akan dapat mempertemukan kita kembali……….."

pahitnya jadi anak jalaan


ebuah kisah yang saya harap menggugah hati kita semua tentang bagaimana kondisi anak jalanan saat ini ...

Kisah ini diambil di sebuah kota besar di Indonesia dimana masih banyak ditemui anak-anak jalanan di beberapa sudutnya. Tahukah anda bahwa sebenarnya anak-anak jalanan tersebut memiliki sebuah organisasi yang cukup jelas dan terstruktur dengan baik? Namun bukan hal itu yang akan saya uraikan saat ini, tapi lebih pada bagaimana kondisi mereka (anak jalanan) saat mereka berada di tempat 'penampungan' yang menjadi rumah bagi mereka.

Saat kita melihat sekelompok anak jalanan yang sedang 'bekerja' di siang hari yang terik dan kita menyisihkan sejumlah rizki yang kita berikan kepada salah satu dari mereka, maka tahukan anda bahwa sejumlah uang yang kita sedekahkan tadi akan mengalir ke seseorang yang dapat kita sebut 'bapak asuh' [yang walau terlalu halus kalau menyebut sosok ini dengan 'bapak asuh' karena sifat sosok bapak asuh ini jauh dari mengasuh dan mengayomi --> terbukti dengan banyaknya anak buah(baca : anak jalanan) yang berhasil kabur dari kandang singa ini]. 'Bapak asuh' inilah yang akan mengelola 'keuangan' mereka.

Struktur dan jobs description yang diberikan kepada anak-anak jalana juga telah diatur sedemikian rupa secara jelas dan terarah. Lihatlah dan coba amati anak-anak jalanan yang mendulang 'emas' di jalanan, pasti ada salah satu dari mereka yang memainkan alat musik sedangkan yang lain bernyanyi, atau jika yang ada adalah sosok pengemis, maka akan ada dua orang dimana salah satu jadi juru bicara dan yang lain berakting untuk menarik rasa iba dari pengguna jalan. Yang jelas, tiap-tiap orang memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Ya walaupun ujung-ujungnya, uang yang berhasil mereka raup akan menuju kepada satu management.

Namun tahukah kita bahwa perlakuan 'management anak jalanan' tadi sangat memprihatinkan ??? Beberapa dari kita mungin sudah mengetahui dari tayangan reportase di TransTV atau dari adegan di beberapa sinetron, tapi sesungguhnya kondisi yang digambarkan di televisi adalah kondisi yang kasat mata dan tertangkap oleh mata kamera. Pernahkah kita mencoba menyelami hati dan perasaan anak-anak tersebut ???

Fakta yang terungkap adalah bahwa mereka sering mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari para 'manager' anak jalanan tersebut. Misalnya, dalam pemberian jatah makan saja, anak jalanan yang bertugas sebagai 'penyanyi' akan mendapatkan jatah makanan yang lebih sedikit daripada mereka yang 'bermain musik', padahal keduanya tergabung dalam satu 'pertunjukan' [maksudnya kemana-mana bersama gitooo ... ] uang yang berhasil mereka dapatkan juga harus diserahkan kepada orang yang sama, merekapun bekerja secara bersama-sama, namun mengapa mereka tidak bisa mendapatkan jatah makanan yang sama ? ya walaupun diakui bahwa si 'pemain musik' jauh memiliki andil dalam setiap 'pertunjukan' yang ada, dan 'si penyanyi tidak akan bisa tampil solo tanpa alat musik, namun tidak dapat dipungkiri bahwa semenjak adanya penyanyi tadi 'pertunjukan' semakin semarak dan uang pun mengalir semakin deras.

Bukan hanya masalah makanan, perlakuan secara mental juga begitu adanya, penyiksaan yang kerap kali dihadapi juga jauh dari kata-kata adil [walaupun untuk hal ini masih terlalu subjektif dan tidak dapat dijadikan patokan]. Meskipun yang namanya penyiksaan memang sama sekali jauh dari kata-kata keadilan ... [emang ada penyiksaan yang adil .... ??? ]

Coba kita bayangkan saja, jika kita jadi salah satu dari anak jalanan yang emndapat perlakuan kurang adil dari 'sang penguasanya'? sementara mereka tinggal di rumah yang sama, bekerja bersama-sama, menyerahkan semua yang didapatkan di jalanan kepada orang yang sama ? Kalau keadaan seperti ini dari mana anak jalanan bisa mendapatkan sisa-sisa kebahagian yang selama ini telah banyak hilang dari kehidupan mereka ??

Kisah ini adalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, sifat dan kejadian adalah sebuah hal yang disengaja tanpa ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Dan jika ada pihak yang tersinggung dan merasa tulisan saya ini cukup mengganggu, silakan untuk mengubah sikap anda agar apa yang saya tuliskan di atas tidak lagi menyinggung anda karena tulisan saya hanya akan menjadi tulisan koso